Selamat menjalankan aktifitas kalian kawan-kawanku semua. terimakasih sudah mau menyempatkan waktu untuk membaca ini. kali ini saya sedang butuh tempat untuk lebih menyendiri lagi dari keramaian yang penuh kebisingan, dan aku lebih memilih menikmati kopi dan musik di kamarku. karena dalam keramaian pun aku merasa bahwa aku sedang sendiri, merasa hampa. Dan kali ini aku ingin menulis tentang perasaan yang baru-baru ini ku rasakan.
aku memiliki perasaan yang berbeda kepada salah satu wanita yang baru aku kenal beberapa hari ini. entah mengapa bisa? aku pun tak tahu. aku berusaha untuk tidak memberitahu dia dan siapapun. karena akupun tidak ingin berdampak buruk bagi dirinya. sebab, aku adalah insan pandir yang selalu menerima takdir. dan mungkin hanya sedikit wanita yang suka dengan pria sepertiku. sebab akupun tahu, aku tidaklah menarik, tidaklah tampan, tidaklah kaya raya, tidaklah berbakat. aku hanya manusia yang berusaha menerima takdir dan berusaha bersyukur atas apa yang aku miliki selama ini. Aku bingung akan kebingungan yang melandaku. harusnya simple saja, jika cinta ya nyatakan! tapi rasanya berat sekali. tidak seperti waktu dimana aku pernah mengungkapkan rasa sayang kepada wanita sebelumnya. entahlah. aku pun bingung pada diriku sendiri.
Mayapada
Dunia dalam blogger, dengan segala kalimatnya. Berasal dari jari jemari yang bosan, dari otak yang pandir, dan fikiran yang usang. maka aku persembahkan sebuah lukisan berupa tulisan yang menjadi cerminan sebuah mata dikepala dan mata dihati.
Rabu, 04 September 2019
Rabu, 26 Juni 2019
Tidak Seperti Waktu Itu
Mungkin hari ini saya mulai kembali menyuarakan isi hati melalui tulisan digital ini, lelah rasanya menyimpan semua hal yang belum bisa saya katakan secara langsung. terkadang seseorang mudah sekali menilai suatu hal yang terjadi bahkan yang belum terjadi sekalipun. Mungkin sesekali saya dapat memahami itu, karena bagi saya itu sudah menjadi hal lumrah (manusiawi). akan tetapi akan berat bagi saya jika itu terjadi berulang-ulang. mungkin akan sulit bagi saya untuk kembali seperti dahulu adanya, untuk melekatkan kembali ujung lakban yang terkelupas dan mulai mengering.
Ahh.. sepertinya kalimat diatas mungkin terlalu rumit. entahlah.. saya juga bukan master bahasa, apalagi nulis nulis blog begini. saya ga jago. dan sebenernya belum pantes, karena saya belum tahu ilmunya. tapi karena keinginan saya untuk membuat diary melalui blog ini ya saya lakukan saja, persetan kata orang, yang penting batin saya terpuaskan. dan yang penting positif untuk saya dan tidak negatif untuk orang lain.
Jadi begini, akhir-akhir ini saya seperti dianggap orang asing (tidak seperti waktu itu), sekarang orang-orang segan untuk mengajak saya duduk dan berdiskusi bahkan sekedar menikmati kopi hitam, entah karena saya sering mengasingkan diri di dalam rumah atau sering pergi berlalu lalang keluar rumah bersama Mio J saya. bahkan fikiran kotor saya, apa karena saya menimba ilmu di universitas? sehingga mereka gengsi dengan saya? ahh.. ga mungkin... atau karena pergaulan saya? perlu diingat bagi pembaca saya dengan siapa saja welcome dan siap untuk bersilaturahmi dengan alas tanah sekalipun. Tidak pernah lebay untuk pergaulan.
Saya adalah orang yang senang dengan kebebasan, dan sulit menerima sebuah tekanan atau aturan. saya selalu ingin hidup riang gembira, selalu ingin merasa bahagia, selalu ingin melihat keluar jendela, selalu ingin melihat dunia. jadi apa tujuan saya? karena kemarin, hari ini dan hingga nanti saya tidak sedang bersusah payah untuk mencari harta. Namun berangkat pagi, siang dan pulang malam bahkan hingga larut malam, itu karena hanya demi menggali ilmu pengalaman (ilmu kehidupan) yang entah dimana kita dapat menemukannya?, karena jika sebatas pengalaman di bangku pendidikan itu tidak ada apa-apanya. Dan saya berharap dengan ilmu ini, saya bisa memilih dan memilah mana yang baik untuk saya dan mana yang tidak. Karena selama ini masih belum banyak ilmu yang saya dapatkan, hingga tidak jarang saya egois terhadap keinginan saya ini, sehingga saya memprioritaskan diri sendiri dibanding yang lain (seperti : keluarga, pasangan, teman, dsb.), hingga saat ini orang tua sudah bosan melihat dan menasihati saya yang sering pulang ke rumah larut malam. karena fikir mereka saya pulang dengan sia-sia tanpa ada suatu manfaat yang bisa dibawa (mungkin karena stigma/penilaian orang yang keluyuran malam adalah brandal). ya itu saya terima sebagai risiko, dan tidak pernah saya mengelak. dan suatu ketika di hari yang melelahkan, saya seperti sedang tidak ingin dinasihati oleh siapapun hingga setan kuat menggoda saya untuk menjawab nasihat mereka (orang tua), dengan logat yang tidak baik dengan kalimat "kalo ngga percaya saya habis ngapain, besok ikut dan lihat sendiri". sedikit kesal dan menyesal mengatakan itu dihadapan mereka, karena saya juga faktor lelah dan akan sulit sekali jika memendam itu. otak sumbu pendek saya berfikir mereka melihat saya salah karena mencari udara bebas diluar rumah (walau memang aturan anak baik adalah pulang sebelum jam 10. tapi saya bukan anak baik).
Saya sering keluar rumah hingga lupa waktu, karena saya bosan didalam rumah yang kurang berpotensi positif dalam kegiatan seperti berkarya (rekam lagu, membuat instrumen, menulis blog, yaa yang terkait hobi lahh) karena manusia pasti ingin ada nuansa yang baru untuk terus produktif, meskipun terkadang saya melupakan sebuah ruangan yang sempit nan terbatas tsb. dengan membaca buku di kamar dan dengan ditemani secangkir kopi serta sedikit cemilan, mungkin itu adalah cara yang lumayan ampuh untuk mengobati kebosanan dengan berfantasi pada kalimat-kalimat yang ada dibuku. Tapi hal tsb. tidak bisa berlangsung begitu lama, tentu baca buku juga dapat membuat saya bosan. terkadang menggantinya dengan mendengarkan musik atau membuat lirik lagu atau membuat beat (instrument Rap/Hip-Hop) atau bermain PES di Laptop dan kegiatan tersebut juga tidak bisa berlangsung lama, rasa bosan tetap akan menghantui kepala. maka saya memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari sesuatu yang bisa dapat mengobati kebosanan yang datang silih berganti tersebut.
Disaat saya belum hobi keluar rumah dengan Mio J, saya masih keluar rumah hanya dengan bermodal kaki dan sandal jepit lalu berjalan ke tempat dimana kawan-kawan sering berkumpul. Namun hari ini saya sudah tidak seaktif waktu itu. hari ini saya lebih sering memilih pergi yang jauh, walau membuat saya lupa untuk pulang ke rumah. Karena saya sudah kenyang dan mual menelan rasa kekecewaan yang sudah basi diatas meja yang terbuat dari semangat. Semakin hari saya semakin muak dengan kepedulian dan rasa solidaritas. Hingga hari ini nuansa hidup di kampung seperti merasa hidup di komplek yang sepi dengan tetangga yang berkehidupan masing-masing. entah.. mungkin itu hanya pandangan saya saja, semoga memang begitu. yaa.. memang menjengkelkan. mungkin saya salah atas sikap saya sekarang ini, tapi mungkin juga tidak. salah bagi siapa dulu? dan benar bagi siapa? tapi dengan ini setidaknya saya bisa belajar, seberapa jauh mereka membutuhkan saya, seberapa pentingkah saya bagi mereka. biarlah fakta dan waktu yang menjawabnya.
Saya rasa hari ini saya telah asing, bukan seperti waktu itu. karena rasa kepedulian saya pada mereka yang selalu disia-siakan dan itu sering terjadi berulang-ulang, hingga saat saya membutuhkan uluran tangan mereka, mereka terdiam dan butatuli, walaupun sebenarnya hal tersebut menjadi tanggung jawab mereka pula. walaupun memang terkadang ada sebagian yang mengerti kondisi saya dan mau ikut berkorban, rasanya seperti menghirup udara segar di tengah pasar yang pengap. hufff.. entahlah.. saya hanya bisa pasrah juga bersabar, dan berterimakasih untuk mereka yang memberikan uluran tangan dan tetesan keringat untuk semuanya.
Dalam hidup ini, saya tidak pernah membeda-bedakan orang dari ilmu, jabatan, pekerjaan, harta, slip gaji, dsb. hanya dengan membedakan seberapa dia berbaik hati dan peduli kepada saya, maka saya akan berbaik hati dan peduli pula kepada mereka.
Jauh dalam pengamatan dan menimbulkan sebuah perspektif saya sendiri yang sepertinya kawan-kawan dominan hanya senang bersenda gurau saja, tertawa terbahak-bahak bersama tanpa ada rasa ingin menciptakan sesuatu hal yang bermanfaat bagi sesama. Hal ini yang membuat semangat saya surut bahkan terkikis hampir habis, sehingga membuat saya tidak nyaman jika selalu menjadi tiang penopang meja yang terbuat dari semangat itu sendirian. maka keputusanlah yang berperan penting dalam hal tsb. entah ini gegabah atau bukan..
walau hari ini rasanya sulit kembali seperti waktu itu, namun saya akan tetap berdoa kepada Allah SWT. untuk tetap memberi jalan yang baik bagi saya dan bagi semua. Sebab, seburuk-buruknya insan pasti dihatinya masih ada Tuhan. dan saya tidak pernah mengkategorikan si A adalah baik dan si B adalah buruk, karena kita semua adalah makhluk yang lemah dan pasti memiliki dosa. dan saya yakin, manusia semuanya mempunyai hati, akal dan fikiran. Sehingga mereka dapat berfikir positif dengan caranya masing-masing. Dan kembali kepada tulisan awal, Mungkin keindahan itu belum terjadi kemarin atau hari ini. Mungkin Nanti. Aamiin.
Sekian.
Ahh.. sepertinya kalimat diatas mungkin terlalu rumit. entahlah.. saya juga bukan master bahasa, apalagi nulis nulis blog begini. saya ga jago. dan sebenernya belum pantes, karena saya belum tahu ilmunya. tapi karena keinginan saya untuk membuat diary melalui blog ini ya saya lakukan saja, persetan kata orang, yang penting batin saya terpuaskan. dan yang penting positif untuk saya dan tidak negatif untuk orang lain.
Jadi begini, akhir-akhir ini saya seperti dianggap orang asing (tidak seperti waktu itu), sekarang orang-orang segan untuk mengajak saya duduk dan berdiskusi bahkan sekedar menikmati kopi hitam, entah karena saya sering mengasingkan diri di dalam rumah atau sering pergi berlalu lalang keluar rumah bersama Mio J saya. bahkan fikiran kotor saya, apa karena saya menimba ilmu di universitas? sehingga mereka gengsi dengan saya? ahh.. ga mungkin... atau karena pergaulan saya? perlu diingat bagi pembaca saya dengan siapa saja welcome dan siap untuk bersilaturahmi dengan alas tanah sekalipun. Tidak pernah lebay untuk pergaulan.
Saya adalah orang yang senang dengan kebebasan, dan sulit menerima sebuah tekanan atau aturan. saya selalu ingin hidup riang gembira, selalu ingin merasa bahagia, selalu ingin melihat keluar jendela, selalu ingin melihat dunia. jadi apa tujuan saya? karena kemarin, hari ini dan hingga nanti saya tidak sedang bersusah payah untuk mencari harta. Namun berangkat pagi, siang dan pulang malam bahkan hingga larut malam, itu karena hanya demi menggali ilmu pengalaman (ilmu kehidupan) yang entah dimana kita dapat menemukannya?, karena jika sebatas pengalaman di bangku pendidikan itu tidak ada apa-apanya. Dan saya berharap dengan ilmu ini, saya bisa memilih dan memilah mana yang baik untuk saya dan mana yang tidak. Karena selama ini masih belum banyak ilmu yang saya dapatkan, hingga tidak jarang saya egois terhadap keinginan saya ini, sehingga saya memprioritaskan diri sendiri dibanding yang lain (seperti : keluarga, pasangan, teman, dsb.), hingga saat ini orang tua sudah bosan melihat dan menasihati saya yang sering pulang ke rumah larut malam. karena fikir mereka saya pulang dengan sia-sia tanpa ada suatu manfaat yang bisa dibawa (mungkin karena stigma/penilaian orang yang keluyuran malam adalah brandal). ya itu saya terima sebagai risiko, dan tidak pernah saya mengelak. dan suatu ketika di hari yang melelahkan, saya seperti sedang tidak ingin dinasihati oleh siapapun hingga setan kuat menggoda saya untuk menjawab nasihat mereka (orang tua), dengan logat yang tidak baik dengan kalimat "kalo ngga percaya saya habis ngapain, besok ikut dan lihat sendiri". sedikit kesal dan menyesal mengatakan itu dihadapan mereka, karena saya juga faktor lelah dan akan sulit sekali jika memendam itu. otak sumbu pendek saya berfikir mereka melihat saya salah karena mencari udara bebas diluar rumah (walau memang aturan anak baik adalah pulang sebelum jam 10. tapi saya bukan anak baik).
Saya sering keluar rumah hingga lupa waktu, karena saya bosan didalam rumah yang kurang berpotensi positif dalam kegiatan seperti berkarya (rekam lagu, membuat instrumen, menulis blog, yaa yang terkait hobi lahh) karena manusia pasti ingin ada nuansa yang baru untuk terus produktif, meskipun terkadang saya melupakan sebuah ruangan yang sempit nan terbatas tsb. dengan membaca buku di kamar dan dengan ditemani secangkir kopi serta sedikit cemilan, mungkin itu adalah cara yang lumayan ampuh untuk mengobati kebosanan dengan berfantasi pada kalimat-kalimat yang ada dibuku. Tapi hal tsb. tidak bisa berlangsung begitu lama, tentu baca buku juga dapat membuat saya bosan. terkadang menggantinya dengan mendengarkan musik atau membuat lirik lagu atau membuat beat (instrument Rap/Hip-Hop) atau bermain PES di Laptop dan kegiatan tersebut juga tidak bisa berlangsung lama, rasa bosan tetap akan menghantui kepala. maka saya memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari sesuatu yang bisa dapat mengobati kebosanan yang datang silih berganti tersebut.
Disaat saya belum hobi keluar rumah dengan Mio J, saya masih keluar rumah hanya dengan bermodal kaki dan sandal jepit lalu berjalan ke tempat dimana kawan-kawan sering berkumpul. Namun hari ini saya sudah tidak seaktif waktu itu. hari ini saya lebih sering memilih pergi yang jauh, walau membuat saya lupa untuk pulang ke rumah. Karena saya sudah kenyang dan mual menelan rasa kekecewaan yang sudah basi diatas meja yang terbuat dari semangat. Semakin hari saya semakin muak dengan kepedulian dan rasa solidaritas. Hingga hari ini nuansa hidup di kampung seperti merasa hidup di komplek yang sepi dengan tetangga yang berkehidupan masing-masing. entah.. mungkin itu hanya pandangan saya saja, semoga memang begitu. yaa.. memang menjengkelkan. mungkin saya salah atas sikap saya sekarang ini, tapi mungkin juga tidak. salah bagi siapa dulu? dan benar bagi siapa? tapi dengan ini setidaknya saya bisa belajar, seberapa jauh mereka membutuhkan saya, seberapa pentingkah saya bagi mereka. biarlah fakta dan waktu yang menjawabnya.
Saya rasa hari ini saya telah asing, bukan seperti waktu itu. karena rasa kepedulian saya pada mereka yang selalu disia-siakan dan itu sering terjadi berulang-ulang, hingga saat saya membutuhkan uluran tangan mereka, mereka terdiam dan butatuli, walaupun sebenarnya hal tersebut menjadi tanggung jawab mereka pula. walaupun memang terkadang ada sebagian yang mengerti kondisi saya dan mau ikut berkorban, rasanya seperti menghirup udara segar di tengah pasar yang pengap. hufff.. entahlah.. saya hanya bisa pasrah juga bersabar, dan berterimakasih untuk mereka yang memberikan uluran tangan dan tetesan keringat untuk semuanya.
Dalam hidup ini, saya tidak pernah membeda-bedakan orang dari ilmu, jabatan, pekerjaan, harta, slip gaji, dsb. hanya dengan membedakan seberapa dia berbaik hati dan peduli kepada saya, maka saya akan berbaik hati dan peduli pula kepada mereka.
Jauh dalam pengamatan dan menimbulkan sebuah perspektif saya sendiri yang sepertinya kawan-kawan dominan hanya senang bersenda gurau saja, tertawa terbahak-bahak bersama tanpa ada rasa ingin menciptakan sesuatu hal yang bermanfaat bagi sesama. Hal ini yang membuat semangat saya surut bahkan terkikis hampir habis, sehingga membuat saya tidak nyaman jika selalu menjadi tiang penopang meja yang terbuat dari semangat itu sendirian. maka keputusanlah yang berperan penting dalam hal tsb. entah ini gegabah atau bukan..
walau hari ini rasanya sulit kembali seperti waktu itu, namun saya akan tetap berdoa kepada Allah SWT. untuk tetap memberi jalan yang baik bagi saya dan bagi semua. Sebab, seburuk-buruknya insan pasti dihatinya masih ada Tuhan. dan saya tidak pernah mengkategorikan si A adalah baik dan si B adalah buruk, karena kita semua adalah makhluk yang lemah dan pasti memiliki dosa. dan saya yakin, manusia semuanya mempunyai hati, akal dan fikiran. Sehingga mereka dapat berfikir positif dengan caranya masing-masing. Dan kembali kepada tulisan awal, Mungkin keindahan itu belum terjadi kemarin atau hari ini. Mungkin Nanti. Aamiin.
Sekian.
Selasa, 09 April 2019
Aku dan kampungku hari ini
Dengan judul yang pasti orang mengira ini adalah cerita ku dengan kampungku, jika dipersenkan sebenarnya 90% anda benar, tapi jika anda membaca sampai akhir pasti anda tahu apa maksudku membuat tulisan seperti ini.
kita lanjut dengan cerita selanjutnya,
kini,
Pertama-tama, Aku akan mengenalkan kampungku, Kampung yang berdiri di tengah-tengah Kota, di Ibu Kota Provinsi Banten, Kampung yang dihimpit oleh pasar modern juga tradisional. Dengan nama kampung "Kebon Sayur" yang sebagian besar orang mengira kampungku penuh dengan sayur-mayur, ternyata tidak! karena jauh sekali dari ekspektasi sebuah perkebunan atau keindahan alam dan faktanya kampungku ini yang masih bisa terbilang kampung yang jorok (sebagian warganya masih buang sampah sembarangan dan buang sampah di kali, hingga tak heran setiap kali hujan deras air kali naik ke pemukiman hingga bisa mencapai banjir setengah badan rumah, dan kemungkinan bisa lebih parah jika tak cepat diatasi), juga kampung yang penuh gang sempit (hampir semua rumah berhimpitan, hingga kendaraan konvensional maupun tradisional tidak bisa masuk), dan kampung yang berisik (selalu gaduh dengan keramaiannya), kampung yang penuh dengan gosip (ibaratkan suara jarum yang jatuh saja, itu bisa terdengar), kampung penuh orang-orang rakus harta, rakus tahta, rakus segala-galanya, (bahkan hingga di acara keagamaan saja masih ada segelintir orang yang mengambil keuntungan dari yang bukan haknya, dan terdapat juga cerita orang yang rakus tahta dengan ngotot dan optimisnya dia akan menjadi pemimpin kampung selamanya, dan hari ini beliau sudah tidak menjabat, tapi tetap beliau merasa menjabat dan merasa menjadi mikro tirani yang selalu usil dan ghibah serta gila dengan hormat).
kita lanjut dengan cerita selanjutnya,
Aku lahir di Kampung ini, dengan keadaan tidak mengetahui apa-apa, seperti anak bayi biasanya. karena waktu aku lahir dan sampai masa kanak-kanak aku hanya sibuk bermain dan bermain. Juga sibuk dengan latihan bicara, sibuk menghafal wajah orang tuaku, wajah nenekku, wajah saudara-saudaraku, bahkan wajah yang kenal dekat dengan ibuku, dan aku sibuk dengan latihan merangkak hingga bisa berdiri dan berjalan. tak pernah ku hiraukan apa yang sedang terjadi di Kampungku. waktu itu aku tidak pernah terlintas mengapa kampungku ini begitu terlihat kumuh. bahkan hingga kini, masih saja ada orang yang buang air besar di kali, karena masih belum punya WC. entah mereka sengaja atau tidak sengaja, mampu atau tidak mampu, suka atau tidak suka, tapi mereka melihat hal seperti itu "sudah biasa" alias dianggap lumrah. apakah mungkin mereka adalah segelintir orang-orang yang cinta keaslian dan menolak perubahan? entahlah.. aku muak, aku tidak ingin membahas hal ini lagi. karena waktu itu ada program presiden tentang PNPM/MCK dan sudah berdiri dan siap dimanfaatkan di tiap RT. tapi sampai sekarang hanya tersisa sedikit bisa terhitung oleh jari, bahkan ada yang hingga sampai sekarang sudah tidak beroperasi. karena tidak diurus dan tidak ada yang mau mengurus, semuanya serba ingin instan, ingin mendapatkan air dengan cara gratis, ingin dapat manfaatnya tanpa ikut bergotong royong merawat atau setidaknya memberi iuran sumbangan untuk kelangsungan hidup fasilitas pemerintah yang bermanfaat itu. sungguh ironis memang.
kini,
Aku sekarang tumbuh sebagai remaja, yang bosan dengan kehidupan hari ini, bosan dengan pola fikir manusia hari ini, sedikit sekali aku menemukan orang yang benar-benar mengabdi, benar-benar intelek, benar-benar jujur, benar-benar peduli dan mereka adalah guruku. guru dalam bidang mengaji (mengasah jiwa) dan mengaji kitab suci Al-Qur'an. mereka adalah orang-orang yang mampu memberiku motivasi, dan menaburkan ambisi mereka sebagai hal yang bisa diwariskan. mereka ternyata adalah orang yang selama ini memperhatikan kondisi sosial dan mau bergerak untuk memberikan perubahan yang lebih baik. contohnya saja mereka mau mengajarkan para generasi membaca kitab suci, dan yang membuatku kagum adalah mereka tidak memungut biaya sepeserpun. tapi walaupun begitu, kita sebagai murid harus peka terhadap orang yang sudah berjasa untuk kita, walau belum bisa memberikan timbal balik berupa uang, tapi kita masih punya tenaga untuk bisa mengantri untuk diberi perintah. maka dengan itu akan terciptanya simbiosis mutualisme.
Kebosanan ku dalam melihat keadaan hari ini semakin hari semakin menjadi. mungkin aku butuh melihat dunia yang luas ini. butuh pergi liburan untuk merasakan perbedaan-perbedaan kondisi sosial disetiap tempat yang nanti ku jejaki. namun, perekonomian dalam keluargaku kurang mendukung, aku bagaikan di rantai, atau di pasung seperti orang yang sulit untuk bisa kemana-mana. sepertinya aku harus menerima rasa bosan ini terus menerus, seperti dipaksa untuk meminum obat yang pahit secara terus menerus. Dan aku bingung entah bagaimana harus keluar dari sini. sedangkan ibuku adalah anak bungsu dari nenekku yang dipercaya keluarga besar untuk menempati rumah warisan kakek dan nenekku. aku ingin sekali rasanya pindah ke kota lain, bahkan jika diberi kesempatan untuk pindah ke negara lain aku mau. aku sangat merindukan sebuah suasana baru. sesuatu yang bisa membuatku kembali berseri ketika menatap pagi, sesuatu yang membuatku bangga dengan adanya program kerjabakti, sesuatu yang membuatku cinta ketika ditanya "dimana tempat tinggalmu?", sesuatu yang membuatku tersenyum jika mengingat masa-masaku, aku ingin itu. seandainya saja tulisan ini diaminkan oleh Tuhan. aku akan bersyukur dengan penuh kebahagiaan, karena aku akan melihat orang-orang kembali berseri, saling bertegur sapa, tidak dikotak-kotakkan oleh permusuhan, tidak saling mencemooh, dan lain sebagainya. karena jika aku masih bertahan disini dengan keadaan yang membuat aku tidak nyaman, aku lebih baik pergi jika tidak ingin mati dengan batin yang perih.
Dalam usiaku yang ke-20 Tahun ini, aku seharusnya antusias untuk membawa sebuah perubahan. tetapi hal yang membuat aku enggan adalah sulitnya sebuah kepercayaan masyarakat, karena aku selalu dianggap sebelah mata sebagai anak kemarin sore yang dilihat para orang tua yang angkuh, dan juga yang membuatku enggan adalah sulitnya para aparatur/pengurus dalam menyesuaikan dan membedakan sebuah posisi jabatan dengan tugas. dan aku sempat kecewa ketika perjuanganku dianggap angin lalu, seperti kerupuk yang basi / umes ketika bersentuhan dengan oksigen berupa angin yang hilir mudik masuk ke rongga-rongga kerupuk hingga membuat semua bagian menjadi keras dan tidak renyah kembali.
maka,
aku hari ini serupa sedang melakukan "Uzlah" atau pengasingan diri. walau aku bukan sekelas seorang sufi, tapi aku memberanikan diri dan mengambil jalan ini. untuk menentramkan hidupku kembali. karena aku bosan jika rajin ibadah didepan mata mereka aku seperti dianggap seorang ustadz, aku seperti dianggap orang shaleh, aku seperti dianggap mahir dalam ilmu agama. padahal dalam kenyataannya itu tidak sama sekali. aku adalah manusia yang masih berdosa, entah sampai kapan aku berhenti berdosa. sesungguhnya aku juga ingin menjadi orang-orang yang tidak pernah lepas dari agama, orang-orang yang selalu berdakwah dan memberikan ilmu kepada yang lain. tapi aku hari ini tidak begitu. sedangkan aku hanya orang berandalan, yang kadang masih sholat bolong-bolong (tidak semua 5 waktu dikerjakan), orang yang senang menyendiri, dan masih banyak lagi.
perlu kalian ketahui,
sebelumnya 1-2 tahun kebelakang, aku adalah orang yang aktif dan membuat pergerakan yang membuat orang lain menyambutnya dengan senang, gembira, seperti angin segar, katanya. dan hari ini aku bosan! bosan dengan orang yang memanfaatkan pergerakan kami, dengan bangga memberi perintah ini itu, memberi sebuah ide yang harus kami garap sendiri, memberi sebuah masukan tanpa berfikir pengeluaran, selalu mengandalkan satu orang dalam setiap hal. sedangkan tujuan kami membuat pergerakan ini hanya untuk melatih kinerja organisasi supaya teman-teman lebih berkembang dan fikirannya lebih maju dibanding teman-teman yang tidak aktif di organisasi. Tapi hari ini, mereka dengan se-enaknya seperti majikan yang memberi sebuah keinginan yang harus kami realisasikan. maka dari itu, sedikit demi sedikit aku mengundurkan diri dari tempat yang membuatku menaruh harapan besar tapi jika aku hanya menjadi sapi perah berarti aku sudah salah jalan . dan bukannya aku tidak ikhlas, bukannya aku tidak terima, aku hanya menyelamatkan diriku dari orang pemakan gajih buta yang memanfaatkan kebaikan orang demi kelancarannya sendiri. aku tidak sedang membicarakan upah (hal keduniawian) aku hanya sedang membicarakan apakah tidak ada kalimat kata selain memberi perintah? apakah akan lebih indah jika diganti dengan kita bekerja sama?. Aku ingin terus berjuang dijalur ini, memperhatikan kondisi sosial yang masih terlihat prihatin. tapi apadaya, aku tidak ingin di injak-injak, dijadikan budak, dijadikan pembantu. aku hanya ingin menjaga kehormatanku, namun aku adalah orang yang tidak sama sekali tergiur untuk menambah kehormatanku. biar Tuhan saja yang Maha Mengetahui apa yang pernah ku perbuat.
Jika berbicara ikhlas, aku ikhlas, tapi aku kecewa ketika mereka meminta sebuah bala bantuan, ketika mereka butuh sebuah perubahan, aku dan teman-teman ku sangat meresponnya dengan baik dan sigap. tapi ketika aku dan teman-teman ku butuh hal yang sama, mereka tidak peduli dan seakan buta juga tuli. tidak mau mempedulikan kami. tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi pada kami. tidak cepat tanggap dengan kesulitan yang kami alami. bahkan hari ini sebagian teman-teman ku juga sama seperti itu. mereka hari ini sama.
tapi biarlah, aku tidak ingin pusing memikirkan hal ini, syukurlah aku menulis ini dengan tingkat emosi yang stabil. tapi tetap aku akan membuat perubahan walau dalam lingkup yang kecil, yaitu pada diriku sendiri.
Kebosanan ku dalam melihat keadaan hari ini semakin hari semakin menjadi. mungkin aku butuh melihat dunia yang luas ini. butuh pergi liburan untuk merasakan perbedaan-perbedaan kondisi sosial disetiap tempat yang nanti ku jejaki. namun, perekonomian dalam keluargaku kurang mendukung, aku bagaikan di rantai, atau di pasung seperti orang yang sulit untuk bisa kemana-mana. sepertinya aku harus menerima rasa bosan ini terus menerus, seperti dipaksa untuk meminum obat yang pahit secara terus menerus. Dan aku bingung entah bagaimana harus keluar dari sini. sedangkan ibuku adalah anak bungsu dari nenekku yang dipercaya keluarga besar untuk menempati rumah warisan kakek dan nenekku. aku ingin sekali rasanya pindah ke kota lain, bahkan jika diberi kesempatan untuk pindah ke negara lain aku mau. aku sangat merindukan sebuah suasana baru. sesuatu yang bisa membuatku kembali berseri ketika menatap pagi, sesuatu yang membuatku bangga dengan adanya program kerjabakti, sesuatu yang membuatku cinta ketika ditanya "dimana tempat tinggalmu?", sesuatu yang membuatku tersenyum jika mengingat masa-masaku, aku ingin itu. seandainya saja tulisan ini diaminkan oleh Tuhan. aku akan bersyukur dengan penuh kebahagiaan, karena aku akan melihat orang-orang kembali berseri, saling bertegur sapa, tidak dikotak-kotakkan oleh permusuhan, tidak saling mencemooh, dan lain sebagainya. karena jika aku masih bertahan disini dengan keadaan yang membuat aku tidak nyaman, aku lebih baik pergi jika tidak ingin mati dengan batin yang perih.
Dalam usiaku yang ke-20 Tahun ini, aku seharusnya antusias untuk membawa sebuah perubahan. tetapi hal yang membuat aku enggan adalah sulitnya sebuah kepercayaan masyarakat, karena aku selalu dianggap sebelah mata sebagai anak kemarin sore yang dilihat para orang tua yang angkuh, dan juga yang membuatku enggan adalah sulitnya para aparatur/pengurus dalam menyesuaikan dan membedakan sebuah posisi jabatan dengan tugas. dan aku sempat kecewa ketika perjuanganku dianggap angin lalu, seperti kerupuk yang basi / umes ketika bersentuhan dengan oksigen berupa angin yang hilir mudik masuk ke rongga-rongga kerupuk hingga membuat semua bagian menjadi keras dan tidak renyah kembali.
maka,
aku hari ini serupa sedang melakukan "Uzlah" atau pengasingan diri. walau aku bukan sekelas seorang sufi, tapi aku memberanikan diri dan mengambil jalan ini. untuk menentramkan hidupku kembali. karena aku bosan jika rajin ibadah didepan mata mereka aku seperti dianggap seorang ustadz, aku seperti dianggap orang shaleh, aku seperti dianggap mahir dalam ilmu agama. padahal dalam kenyataannya itu tidak sama sekali. aku adalah manusia yang masih berdosa, entah sampai kapan aku berhenti berdosa. sesungguhnya aku juga ingin menjadi orang-orang yang tidak pernah lepas dari agama, orang-orang yang selalu berdakwah dan memberikan ilmu kepada yang lain. tapi aku hari ini tidak begitu. sedangkan aku hanya orang berandalan, yang kadang masih sholat bolong-bolong (tidak semua 5 waktu dikerjakan), orang yang senang menyendiri, dan masih banyak lagi.
perlu kalian ketahui,
sebelumnya 1-2 tahun kebelakang, aku adalah orang yang aktif dan membuat pergerakan yang membuat orang lain menyambutnya dengan senang, gembira, seperti angin segar, katanya. dan hari ini aku bosan! bosan dengan orang yang memanfaatkan pergerakan kami, dengan bangga memberi perintah ini itu, memberi sebuah ide yang harus kami garap sendiri, memberi sebuah masukan tanpa berfikir pengeluaran, selalu mengandalkan satu orang dalam setiap hal. sedangkan tujuan kami membuat pergerakan ini hanya untuk melatih kinerja organisasi supaya teman-teman lebih berkembang dan fikirannya lebih maju dibanding teman-teman yang tidak aktif di organisasi. Tapi hari ini, mereka dengan se-enaknya seperti majikan yang memberi sebuah keinginan yang harus kami realisasikan. maka dari itu, sedikit demi sedikit aku mengundurkan diri dari tempat yang membuatku menaruh harapan besar tapi jika aku hanya menjadi sapi perah berarti aku sudah salah jalan . dan bukannya aku tidak ikhlas, bukannya aku tidak terima, aku hanya menyelamatkan diriku dari orang pemakan gajih buta yang memanfaatkan kebaikan orang demi kelancarannya sendiri. aku tidak sedang membicarakan upah (hal keduniawian) aku hanya sedang membicarakan apakah tidak ada kalimat kata selain memberi perintah? apakah akan lebih indah jika diganti dengan kita bekerja sama?. Aku ingin terus berjuang dijalur ini, memperhatikan kondisi sosial yang masih terlihat prihatin. tapi apadaya, aku tidak ingin di injak-injak, dijadikan budak, dijadikan pembantu. aku hanya ingin menjaga kehormatanku, namun aku adalah orang yang tidak sama sekali tergiur untuk menambah kehormatanku. biar Tuhan saja yang Maha Mengetahui apa yang pernah ku perbuat.
Jika berbicara ikhlas, aku ikhlas, tapi aku kecewa ketika mereka meminta sebuah bala bantuan, ketika mereka butuh sebuah perubahan, aku dan teman-teman ku sangat meresponnya dengan baik dan sigap. tapi ketika aku dan teman-teman ku butuh hal yang sama, mereka tidak peduli dan seakan buta juga tuli. tidak mau mempedulikan kami. tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi pada kami. tidak cepat tanggap dengan kesulitan yang kami alami. bahkan hari ini sebagian teman-teman ku juga sama seperti itu. mereka hari ini sama.
tapi biarlah, aku tidak ingin pusing memikirkan hal ini, syukurlah aku menulis ini dengan tingkat emosi yang stabil. tapi tetap aku akan membuat perubahan walau dalam lingkup yang kecil, yaitu pada diriku sendiri.
Entah kalian yang membaca ini yang akan memberi perspektifnya, karena tugasku hanya menulis apa yang bola mataku lihat dan hatiku rasakan. sekian.
Langganan:
Komentar (Atom)