Pertama-tama, Aku akan mengenalkan kampungku, Kampung yang berdiri di tengah-tengah Kota, di Ibu Kota Provinsi Banten, Kampung yang dihimpit oleh pasar modern juga tradisional. Dengan nama kampung "Kebon Sayur" yang sebagian besar orang mengira kampungku penuh dengan sayur-mayur, ternyata tidak! karena jauh sekali dari ekspektasi sebuah perkebunan atau keindahan alam dan faktanya kampungku ini yang masih bisa terbilang kampung yang jorok (sebagian warganya masih buang sampah sembarangan dan buang sampah di kali, hingga tak heran setiap kali hujan deras air kali naik ke pemukiman hingga bisa mencapai banjir setengah badan rumah, dan kemungkinan bisa lebih parah jika tak cepat diatasi), juga kampung yang penuh gang sempit (hampir semua rumah berhimpitan, hingga kendaraan konvensional maupun tradisional tidak bisa masuk), dan kampung yang berisik (selalu gaduh dengan keramaiannya), kampung yang penuh dengan gosip (ibaratkan suara jarum yang jatuh saja, itu bisa terdengar), kampung penuh orang-orang rakus harta, rakus tahta, rakus segala-galanya, (bahkan hingga di acara keagamaan saja masih ada segelintir orang yang mengambil keuntungan dari yang bukan haknya, dan terdapat juga cerita orang yang rakus tahta dengan ngotot dan optimisnya dia akan menjadi pemimpin kampung selamanya, dan hari ini beliau sudah tidak menjabat, tapi tetap beliau merasa menjabat dan merasa menjadi mikro tirani yang selalu usil dan ghibah serta gila dengan hormat).
kita lanjut dengan cerita selanjutnya,
Aku lahir di Kampung ini, dengan keadaan tidak mengetahui apa-apa, seperti anak bayi biasanya. karena waktu aku lahir dan sampai masa kanak-kanak aku hanya sibuk bermain dan bermain. Juga sibuk dengan latihan bicara, sibuk menghafal wajah orang tuaku, wajah nenekku, wajah saudara-saudaraku, bahkan wajah yang kenal dekat dengan ibuku, dan aku sibuk dengan latihan merangkak hingga bisa berdiri dan berjalan. tak pernah ku hiraukan apa yang sedang terjadi di Kampungku. waktu itu aku tidak pernah terlintas mengapa kampungku ini begitu terlihat kumuh. bahkan hingga kini, masih saja ada orang yang buang air besar di kali, karena masih belum punya WC. entah mereka sengaja atau tidak sengaja, mampu atau tidak mampu, suka atau tidak suka, tapi mereka melihat hal seperti itu "sudah biasa" alias dianggap lumrah. apakah mungkin mereka adalah segelintir orang-orang yang cinta keaslian dan menolak perubahan? entahlah.. aku muak, aku tidak ingin membahas hal ini lagi. karena waktu itu ada program presiden tentang PNPM/MCK dan sudah berdiri dan siap dimanfaatkan di tiap RT. tapi sampai sekarang hanya tersisa sedikit bisa terhitung oleh jari, bahkan ada yang hingga sampai sekarang sudah tidak beroperasi. karena tidak diurus dan tidak ada yang mau mengurus, semuanya serba ingin instan, ingin mendapatkan air dengan cara gratis, ingin dapat manfaatnya tanpa ikut bergotong royong merawat atau setidaknya memberi iuran sumbangan untuk kelangsungan hidup fasilitas pemerintah yang bermanfaat itu. sungguh ironis memang.
kini,
Aku sekarang tumbuh sebagai remaja, yang bosan dengan kehidupan hari ini, bosan dengan pola fikir manusia hari ini, sedikit sekali aku menemukan orang yang benar-benar mengabdi, benar-benar intelek, benar-benar jujur, benar-benar peduli dan mereka adalah guruku. guru dalam bidang mengaji (mengasah jiwa) dan mengaji kitab suci Al-Qur'an. mereka adalah orang-orang yang mampu memberiku motivasi, dan menaburkan ambisi mereka sebagai hal yang bisa diwariskan. mereka ternyata adalah orang yang selama ini memperhatikan kondisi sosial dan mau bergerak untuk memberikan perubahan yang lebih baik. contohnya saja mereka mau mengajarkan para generasi membaca kitab suci, dan yang membuatku kagum adalah mereka tidak memungut biaya sepeserpun. tapi walaupun begitu, kita sebagai murid harus peka terhadap orang yang sudah berjasa untuk kita, walau belum bisa memberikan timbal balik berupa uang, tapi kita masih punya tenaga untuk bisa mengantri untuk diberi perintah. maka dengan itu akan terciptanya simbiosis mutualisme.
Kebosanan ku dalam melihat keadaan hari ini semakin hari semakin menjadi. mungkin aku butuh melihat dunia yang luas ini. butuh pergi liburan untuk merasakan perbedaan-perbedaan kondisi sosial disetiap tempat yang nanti ku jejaki. namun, perekonomian dalam keluargaku kurang mendukung, aku bagaikan di rantai, atau di pasung seperti orang yang sulit untuk bisa kemana-mana. sepertinya aku harus menerima rasa bosan ini terus menerus, seperti dipaksa untuk meminum obat yang pahit secara terus menerus. Dan aku bingung entah bagaimana harus keluar dari sini. sedangkan ibuku adalah anak bungsu dari nenekku yang dipercaya keluarga besar untuk menempati rumah warisan kakek dan nenekku. aku ingin sekali rasanya pindah ke kota lain, bahkan jika diberi kesempatan untuk pindah ke negara lain aku mau. aku sangat merindukan sebuah suasana baru. sesuatu yang bisa membuatku kembali berseri ketika menatap pagi, sesuatu yang membuatku bangga dengan adanya program kerjabakti, sesuatu yang membuatku cinta ketika ditanya "dimana tempat tinggalmu?", sesuatu yang membuatku tersenyum jika mengingat masa-masaku, aku ingin itu. seandainya saja tulisan ini diaminkan oleh Tuhan. aku akan bersyukur dengan penuh kebahagiaan, karena aku akan melihat orang-orang kembali berseri, saling bertegur sapa, tidak dikotak-kotakkan oleh permusuhan, tidak saling mencemooh, dan lain sebagainya. karena jika aku masih bertahan disini dengan keadaan yang membuat aku tidak nyaman, aku lebih baik pergi jika tidak ingin mati dengan batin yang perih.
Dalam usiaku yang ke-20 Tahun ini, aku seharusnya antusias untuk membawa sebuah perubahan. tetapi hal yang membuat aku enggan adalah sulitnya sebuah kepercayaan masyarakat, karena aku selalu dianggap sebelah mata sebagai anak kemarin sore yang dilihat para orang tua yang angkuh, dan juga yang membuatku enggan adalah sulitnya para aparatur/pengurus dalam menyesuaikan dan membedakan sebuah posisi jabatan dengan tugas. dan aku sempat kecewa ketika perjuanganku dianggap angin lalu, seperti kerupuk yang basi / umes ketika bersentuhan dengan oksigen berupa angin yang hilir mudik masuk ke rongga-rongga kerupuk hingga membuat semua bagian menjadi keras dan tidak renyah kembali.
maka,
aku hari ini serupa sedang melakukan "Uzlah" atau pengasingan diri. walau aku bukan sekelas seorang sufi, tapi aku memberanikan diri dan mengambil jalan ini. untuk menentramkan hidupku kembali. karena aku bosan jika rajin ibadah didepan mata mereka aku seperti dianggap seorang ustadz, aku seperti dianggap orang shaleh, aku seperti dianggap mahir dalam ilmu agama. padahal dalam kenyataannya itu tidak sama sekali. aku adalah manusia yang masih berdosa, entah sampai kapan aku berhenti berdosa. sesungguhnya aku juga ingin menjadi orang-orang yang tidak pernah lepas dari agama, orang-orang yang selalu berdakwah dan memberikan ilmu kepada yang lain. tapi aku hari ini tidak begitu. sedangkan aku hanya orang berandalan, yang kadang masih sholat bolong-bolong (tidak semua 5 waktu dikerjakan), orang yang senang menyendiri, dan masih banyak lagi.
perlu kalian ketahui,
sebelumnya 1-2 tahun kebelakang, aku adalah orang yang aktif dan membuat pergerakan yang membuat orang lain menyambutnya dengan senang, gembira, seperti angin segar, katanya. dan hari ini aku bosan! bosan dengan orang yang memanfaatkan pergerakan kami, dengan bangga memberi perintah ini itu, memberi sebuah ide yang harus kami garap sendiri, memberi sebuah masukan tanpa berfikir pengeluaran, selalu mengandalkan satu orang dalam setiap hal. sedangkan tujuan kami membuat pergerakan ini hanya untuk melatih kinerja organisasi supaya teman-teman lebih berkembang dan fikirannya lebih maju dibanding teman-teman yang tidak aktif di organisasi. Tapi hari ini, mereka dengan se-enaknya seperti majikan yang memberi sebuah keinginan yang harus kami realisasikan. maka dari itu, sedikit demi sedikit aku mengundurkan diri dari tempat yang membuatku menaruh harapan besar tapi jika aku hanya menjadi sapi perah berarti aku sudah salah jalan . dan bukannya aku tidak ikhlas, bukannya aku tidak terima, aku hanya menyelamatkan diriku dari orang pemakan gajih buta yang memanfaatkan kebaikan orang demi kelancarannya sendiri. aku tidak sedang membicarakan upah (hal keduniawian) aku hanya sedang membicarakan apakah tidak ada kalimat kata selain memberi perintah? apakah akan lebih indah jika diganti dengan kita bekerja sama?. Aku ingin terus berjuang dijalur ini, memperhatikan kondisi sosial yang masih terlihat prihatin. tapi apadaya, aku tidak ingin di injak-injak, dijadikan budak, dijadikan pembantu. aku hanya ingin menjaga kehormatanku, namun aku adalah orang yang tidak sama sekali tergiur untuk menambah kehormatanku. biar Tuhan saja yang Maha Mengetahui apa yang pernah ku perbuat.
Jika berbicara ikhlas, aku ikhlas, tapi aku kecewa ketika mereka meminta sebuah bala bantuan, ketika mereka butuh sebuah perubahan, aku dan teman-teman ku sangat meresponnya dengan baik dan sigap. tapi ketika aku dan teman-teman ku butuh hal yang sama, mereka tidak peduli dan seakan buta juga tuli. tidak mau mempedulikan kami. tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi pada kami. tidak cepat tanggap dengan kesulitan yang kami alami. bahkan hari ini sebagian teman-teman ku juga sama seperti itu. mereka hari ini sama.
tapi biarlah, aku tidak ingin pusing memikirkan hal ini, syukurlah aku menulis ini dengan tingkat emosi yang stabil. tapi tetap aku akan membuat perubahan walau dalam lingkup yang kecil, yaitu pada diriku sendiri.
Kebosanan ku dalam melihat keadaan hari ini semakin hari semakin menjadi. mungkin aku butuh melihat dunia yang luas ini. butuh pergi liburan untuk merasakan perbedaan-perbedaan kondisi sosial disetiap tempat yang nanti ku jejaki. namun, perekonomian dalam keluargaku kurang mendukung, aku bagaikan di rantai, atau di pasung seperti orang yang sulit untuk bisa kemana-mana. sepertinya aku harus menerima rasa bosan ini terus menerus, seperti dipaksa untuk meminum obat yang pahit secara terus menerus. Dan aku bingung entah bagaimana harus keluar dari sini. sedangkan ibuku adalah anak bungsu dari nenekku yang dipercaya keluarga besar untuk menempati rumah warisan kakek dan nenekku. aku ingin sekali rasanya pindah ke kota lain, bahkan jika diberi kesempatan untuk pindah ke negara lain aku mau. aku sangat merindukan sebuah suasana baru. sesuatu yang bisa membuatku kembali berseri ketika menatap pagi, sesuatu yang membuatku bangga dengan adanya program kerjabakti, sesuatu yang membuatku cinta ketika ditanya "dimana tempat tinggalmu?", sesuatu yang membuatku tersenyum jika mengingat masa-masaku, aku ingin itu. seandainya saja tulisan ini diaminkan oleh Tuhan. aku akan bersyukur dengan penuh kebahagiaan, karena aku akan melihat orang-orang kembali berseri, saling bertegur sapa, tidak dikotak-kotakkan oleh permusuhan, tidak saling mencemooh, dan lain sebagainya. karena jika aku masih bertahan disini dengan keadaan yang membuat aku tidak nyaman, aku lebih baik pergi jika tidak ingin mati dengan batin yang perih.
Dalam usiaku yang ke-20 Tahun ini, aku seharusnya antusias untuk membawa sebuah perubahan. tetapi hal yang membuat aku enggan adalah sulitnya sebuah kepercayaan masyarakat, karena aku selalu dianggap sebelah mata sebagai anak kemarin sore yang dilihat para orang tua yang angkuh, dan juga yang membuatku enggan adalah sulitnya para aparatur/pengurus dalam menyesuaikan dan membedakan sebuah posisi jabatan dengan tugas. dan aku sempat kecewa ketika perjuanganku dianggap angin lalu, seperti kerupuk yang basi / umes ketika bersentuhan dengan oksigen berupa angin yang hilir mudik masuk ke rongga-rongga kerupuk hingga membuat semua bagian menjadi keras dan tidak renyah kembali.
maka,
aku hari ini serupa sedang melakukan "Uzlah" atau pengasingan diri. walau aku bukan sekelas seorang sufi, tapi aku memberanikan diri dan mengambil jalan ini. untuk menentramkan hidupku kembali. karena aku bosan jika rajin ibadah didepan mata mereka aku seperti dianggap seorang ustadz, aku seperti dianggap orang shaleh, aku seperti dianggap mahir dalam ilmu agama. padahal dalam kenyataannya itu tidak sama sekali. aku adalah manusia yang masih berdosa, entah sampai kapan aku berhenti berdosa. sesungguhnya aku juga ingin menjadi orang-orang yang tidak pernah lepas dari agama, orang-orang yang selalu berdakwah dan memberikan ilmu kepada yang lain. tapi aku hari ini tidak begitu. sedangkan aku hanya orang berandalan, yang kadang masih sholat bolong-bolong (tidak semua 5 waktu dikerjakan), orang yang senang menyendiri, dan masih banyak lagi.
perlu kalian ketahui,
sebelumnya 1-2 tahun kebelakang, aku adalah orang yang aktif dan membuat pergerakan yang membuat orang lain menyambutnya dengan senang, gembira, seperti angin segar, katanya. dan hari ini aku bosan! bosan dengan orang yang memanfaatkan pergerakan kami, dengan bangga memberi perintah ini itu, memberi sebuah ide yang harus kami garap sendiri, memberi sebuah masukan tanpa berfikir pengeluaran, selalu mengandalkan satu orang dalam setiap hal. sedangkan tujuan kami membuat pergerakan ini hanya untuk melatih kinerja organisasi supaya teman-teman lebih berkembang dan fikirannya lebih maju dibanding teman-teman yang tidak aktif di organisasi. Tapi hari ini, mereka dengan se-enaknya seperti majikan yang memberi sebuah keinginan yang harus kami realisasikan. maka dari itu, sedikit demi sedikit aku mengundurkan diri dari tempat yang membuatku menaruh harapan besar tapi jika aku hanya menjadi sapi perah berarti aku sudah salah jalan . dan bukannya aku tidak ikhlas, bukannya aku tidak terima, aku hanya menyelamatkan diriku dari orang pemakan gajih buta yang memanfaatkan kebaikan orang demi kelancarannya sendiri. aku tidak sedang membicarakan upah (hal keduniawian) aku hanya sedang membicarakan apakah tidak ada kalimat kata selain memberi perintah? apakah akan lebih indah jika diganti dengan kita bekerja sama?. Aku ingin terus berjuang dijalur ini, memperhatikan kondisi sosial yang masih terlihat prihatin. tapi apadaya, aku tidak ingin di injak-injak, dijadikan budak, dijadikan pembantu. aku hanya ingin menjaga kehormatanku, namun aku adalah orang yang tidak sama sekali tergiur untuk menambah kehormatanku. biar Tuhan saja yang Maha Mengetahui apa yang pernah ku perbuat.
Jika berbicara ikhlas, aku ikhlas, tapi aku kecewa ketika mereka meminta sebuah bala bantuan, ketika mereka butuh sebuah perubahan, aku dan teman-teman ku sangat meresponnya dengan baik dan sigap. tapi ketika aku dan teman-teman ku butuh hal yang sama, mereka tidak peduli dan seakan buta juga tuli. tidak mau mempedulikan kami. tidak menghiraukan apa yang sedang terjadi pada kami. tidak cepat tanggap dengan kesulitan yang kami alami. bahkan hari ini sebagian teman-teman ku juga sama seperti itu. mereka hari ini sama.
tapi biarlah, aku tidak ingin pusing memikirkan hal ini, syukurlah aku menulis ini dengan tingkat emosi yang stabil. tapi tetap aku akan membuat perubahan walau dalam lingkup yang kecil, yaitu pada diriku sendiri.
Entah kalian yang membaca ini yang akan memberi perspektifnya, karena tugasku hanya menulis apa yang bola mataku lihat dan hatiku rasakan. sekian.