Rabu, 26 Juni 2019

Tidak Seperti Waktu Itu

Mungkin hari ini saya mulai kembali menyuarakan isi hati melalui tulisan digital ini, lelah rasanya menyimpan semua hal yang belum bisa saya katakan secara langsung. terkadang seseorang mudah sekali menilai suatu hal yang terjadi bahkan yang belum terjadi sekalipun. Mungkin sesekali saya dapat memahami itu,  karena bagi saya itu sudah menjadi hal lumrah (manusiawi). akan tetapi akan berat bagi saya jika itu terjadi berulang-ulang. mungkin akan sulit bagi saya untuk kembali seperti dahulu adanya, untuk melekatkan kembali ujung lakban yang terkelupas dan mulai mengering.

Ahh.. sepertinya kalimat diatas mungkin terlalu rumit. entahlah.. saya juga bukan master bahasa, apalagi nulis nulis blog begini. saya ga jago. dan sebenernya belum pantes, karena saya belum tahu ilmunya. tapi karena keinginan saya untuk membuat diary melalui blog ini ya saya lakukan saja, persetan kata orang, yang penting batin saya terpuaskan. dan yang penting positif untuk saya dan tidak negatif untuk orang lain.

Jadi begini, akhir-akhir ini saya seperti dianggap orang asing (tidak seperti waktu itu), sekarang orang-orang segan untuk mengajak saya duduk dan berdiskusi bahkan sekedar menikmati kopi hitam, entah karena saya sering mengasingkan diri di dalam rumah atau sering pergi berlalu lalang keluar rumah bersama Mio J saya.  bahkan fikiran kotor saya, apa karena saya menimba ilmu di universitas? sehingga mereka gengsi dengan saya? ahh.. ga mungkin... atau karena pergaulan saya? perlu diingat bagi pembaca saya dengan siapa saja welcome dan siap untuk bersilaturahmi dengan alas tanah sekalipun. Tidak pernah lebay untuk pergaulan.

Saya adalah orang yang senang dengan kebebasan, dan sulit menerima sebuah tekanan atau aturan. saya selalu ingin hidup riang gembira, selalu ingin merasa bahagia, selalu ingin melihat keluar jendela, selalu ingin melihat dunia. jadi apa tujuan saya? karena kemarin, hari ini dan hingga nanti saya tidak sedang bersusah payah untuk mencari harta. Namun berangkat pagi, siang dan pulang malam bahkan hingga larut malam, itu karena hanya demi menggali ilmu pengalaman (ilmu kehidupan) yang entah dimana kita dapat menemukannya?, karena jika sebatas pengalaman di bangku pendidikan itu tidak ada apa-apanya. Dan saya berharap dengan ilmu ini, saya bisa memilih dan memilah mana yang baik untuk saya dan mana yang tidak. Karena selama ini masih belum banyak ilmu yang saya dapatkan, hingga tidak jarang saya egois terhadap keinginan saya ini, sehingga saya memprioritaskan diri sendiri dibanding yang lain (seperti : keluarga, pasangan, teman, dsb.), hingga saat ini orang tua sudah bosan melihat dan menasihati saya yang sering pulang ke rumah larut malam. karena fikir mereka saya pulang dengan sia-sia tanpa ada suatu manfaat yang bisa dibawa (mungkin karena stigma/penilaian orang yang keluyuran malam adalah brandal). ya itu saya terima sebagai risiko, dan tidak pernah saya mengelak. dan suatu ketika di hari yang melelahkan, saya seperti sedang tidak ingin dinasihati oleh siapapun hingga setan kuat menggoda saya untuk menjawab nasihat mereka (orang tua), dengan logat yang tidak baik dengan kalimat "kalo ngga percaya saya habis ngapain, besok ikut dan lihat sendiri". sedikit kesal dan menyesal mengatakan itu dihadapan mereka, karena saya juga faktor lelah dan akan sulit sekali jika memendam itu. otak sumbu pendek saya berfikir mereka melihat saya salah karena mencari udara bebas diluar rumah (walau memang aturan anak baik adalah pulang sebelum jam 10. tapi saya bukan anak baik).

Saya sering keluar rumah hingga lupa waktu, karena saya bosan didalam rumah yang kurang berpotensi positif dalam kegiatan seperti berkarya (rekam lagu, membuat instrumen, menulis blog, yaa yang terkait hobi lahh) karena manusia pasti ingin ada nuansa yang baru untuk terus produktif, meskipun terkadang saya melupakan sebuah ruangan yang sempit nan terbatas tsb. dengan membaca buku di kamar dan dengan ditemani secangkir kopi serta sedikit cemilan, mungkin itu adalah cara yang lumayan ampuh untuk mengobati kebosanan dengan berfantasi pada kalimat-kalimat yang ada dibuku. Tapi hal tsb. tidak bisa berlangsung begitu lama, tentu baca buku juga dapat membuat saya bosan. terkadang menggantinya dengan mendengarkan musik atau membuat lirik lagu atau membuat beat (instrument Rap/Hip-Hop) atau bermain PES di Laptop dan kegiatan tersebut juga tidak bisa berlangsung lama, rasa bosan tetap akan menghantui kepala. maka saya memutuskan untuk keluar dari rumah, mencari sesuatu yang bisa dapat mengobati kebosanan yang datang silih berganti tersebut.

Disaat saya belum hobi keluar rumah dengan Mio J, saya masih keluar rumah hanya dengan bermodal kaki dan sandal jepit lalu berjalan ke tempat dimana kawan-kawan sering berkumpul. Namun hari ini saya sudah tidak seaktif waktu itu. hari ini saya lebih sering memilih pergi yang jauh, walau membuat saya lupa untuk pulang ke rumah. Karena saya sudah kenyang dan mual menelan rasa kekecewaan yang sudah basi diatas meja yang terbuat dari semangat. Semakin hari saya semakin muak dengan kepedulian dan rasa solidaritas. Hingga hari ini nuansa hidup di kampung seperti merasa hidup di komplek yang sepi dengan tetangga yang berkehidupan masing-masing. entah.. mungkin itu hanya pandangan saya saja, semoga memang begitu. yaa.. memang menjengkelkan. mungkin saya salah atas sikap saya sekarang ini, tapi mungkin juga tidak. salah bagi siapa dulu? dan benar bagi siapa? tapi dengan ini setidaknya saya bisa belajar, seberapa jauh mereka membutuhkan saya, seberapa pentingkah saya bagi mereka. biarlah fakta dan waktu yang menjawabnya.

Saya rasa hari ini saya telah asing, bukan seperti waktu itu. karena rasa kepedulian saya pada mereka yang selalu disia-siakan dan itu sering terjadi berulang-ulang, hingga saat saya membutuhkan uluran tangan mereka, mereka terdiam dan butatuli, walaupun sebenarnya hal tersebut menjadi tanggung jawab mereka pula. walaupun memang terkadang ada sebagian yang mengerti kondisi saya dan mau ikut berkorban, rasanya seperti menghirup udara segar di tengah pasar yang pengap. hufff.. entahlah.. saya hanya bisa pasrah juga bersabar, dan berterimakasih untuk mereka yang memberikan uluran tangan dan tetesan keringat untuk semuanya.

Dalam hidup ini, saya tidak pernah membeda-bedakan orang dari ilmu, jabatan, pekerjaan, harta, slip gaji, dsb. hanya dengan membedakan seberapa dia berbaik hati dan peduli kepada saya, maka saya akan berbaik hati dan peduli pula kepada mereka.

Jauh dalam pengamatan dan menimbulkan sebuah perspektif saya sendiri yang sepertinya kawan-kawan dominan hanya senang bersenda gurau saja, tertawa terbahak-bahak bersama tanpa ada rasa ingin menciptakan sesuatu hal yang bermanfaat bagi sesama. Hal ini yang membuat semangat saya surut bahkan terkikis hampir habis, sehingga membuat saya tidak nyaman jika selalu menjadi tiang penopang meja yang terbuat dari semangat itu sendirian. maka keputusanlah yang berperan penting dalam hal tsb. entah ini gegabah atau bukan..

walau hari ini rasanya sulit kembali seperti waktu itu, namun saya akan tetap berdoa kepada Allah SWT. untuk tetap memberi jalan yang baik bagi saya dan bagi semua. Sebab, seburuk-buruknya insan pasti dihatinya masih ada Tuhan. dan saya tidak pernah mengkategorikan si A adalah baik dan si B adalah buruk, karena kita semua adalah makhluk yang lemah dan pasti memiliki dosa. dan saya yakin, manusia semuanya mempunyai hati, akal dan fikiran. Sehingga mereka dapat berfikir positif dengan caranya masing-masing. Dan kembali kepada tulisan awal, Mungkin keindahan itu belum terjadi kemarin atau hari ini. Mungkin Nanti. Aamiin.

Sekian.